Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Blog EntryMay 27, '10 12:24 AM
for everyone

Tahun 2006 adalah tahun yang membawa perubahan besar dalam hidupku. Bagaimana tidak di tahun itu aku memutuskan tuk menyaberang ke negeri seberang, menjadi seorang TKI.  Banyak cerita setelah lebih dari 4 tahun perjalanan di sini. Tapi ada satu kejadian yang sangat membekas dalam hati. Kisah ini mungkin banyak yang mengalami, tapi bagiku sendiri ada beberapa hal yang menyadarkanku akan adanya kasih sayang yang selama ini sangat jarang terucap. Kisah ini Lina ikutkan dalam kontes blog berbagi kisah sejati yang diadakan oleh mbak Anazkia dengan sponsor denaihati

 

*&*

 

Pagi itu, tanggal 27 Mei 2006, tepat 2 bulan aku menginjakkan kaki di Negeri  Malaysia ini. Aku masih ingat, pagi itu adalah usai kerja malam, berarti cuti untukku dan temen-teman yang kerja di shift z. Rasa kantuk dan penat karena semalaman ga tidur menyebabkan aku, Lia, dan mbak Yuni pengen cepat-cepat sampai rumah. Oh iya, aku tinggal di sebuah flat 8 tingkat, sedangkan rumahku ada di lantai 2. Ga kuat naik tangga, kami bertiga naik lift. Saat keluar dari lift itu, sebuah sms masuk di hp Lia. Sambil berjalan menuju rumah yang ada di pojok sebelah barat Lia baca smsnya. Ternyata dari adiknya, “mbak, barusan ada gempa gedhe dan kenceng banget mbak.. sampe takut aku..”

 

“lha gimana keadaannya??”balas temenku.

 

“gpp kok mbak, cuman ada retak-retak dikit aja.” Itulah jawaban dari adik Lia yang bikin hati kami sedikit lega.

 

Sampai di rumah, setelah membersihkan diri kamipun segera ke tempat tidur, melunasi hutang tidur tadi malam. Hampir terlelap saat sayup-sayup aku mendengar jendela rumah kami digedor orang.

 

“hey… bangun!! Bangun!!! Jogja karam…!!”teriak Alif,gadis mungil itu sambil terisak.

 

“ada apa tho, Lif??”tanyaku bingung sambil membuka pintu rumah.

 

“Jogja karam!! Kita nanti pulang ke mana??”ceracaunya lagi.

Aku dan teman-teman satu rumah masih saja bingung dengan apa yang terjadi.

 

“Barusan aku dapat berita kalo ada gempa di Bantul. Jogja karam....!”katanya diselangi isak tangisnya.

 

Panik, hanya itu yang aku rasakan saat itu. Mau nyari informasi lewat mana??  Sedangkan hp aku ga punya. Bergegas cuci muka dan ganti baju turun ke bawah berlari ke flat sebelah mencari wartel. Sampai di wartel, langsung menelpon nomer pakdhe, om, mas sepupu, mbak sepupu. Semua nomer telepon yang aku punya, entah punya tetangga aku coba telepon, tapi hasilnya nihil. Tak satupun nomer bisa dihubungi.

 

“kenapa dek??” Tanya pemilik wartel, yang orang Medan.

 

“Jogja kena gempa, kak. Katanya sih gedhe. Dan nomer ga nyambung semua.”jelasku.

 

“dihubungi lewat HP aja. Biasanya kalo lewat wartel susah dihubungi kalo kayak gitu.”katanya.

 

Dan akhirnya aku cuman beli kartu isi ulang. Dalam pikiranku aku bisa pinjam Hp teman buat telpon mencari kabar.

Kembali ke rumah, teman-teman yang rumahnya Jogja sudah berkumpul. Ada yang sudah dapat kabar dari rumah ada juga yang masih saja mencari kabar. Suasana begitu kalut, risau dan sedih. Isak tangis kawan-kawan menambah sedihku, karena aku masih belum bisa menghubungi keluargaku.

 

Aku meminta izin ke Lia, sahabatku, meminjam HP-nya. Dengan senang hati dia meminjamkannya. Aku isi pulsanya tadi kemudian mencoba men-dial nomer semua kerabatku. Sampai pada nomer pakdhe, alhamdulillah bisa nyambung dan diangkat.

 

“assalamu’alaikum, Pakdhe. Niki Lina, criose wonten gempa teng Bantul??”aku langsung menanyakan perihal berita gempa di Bantul.

 

“wa’alaikumsalam. Iyo nDuk. Alhamdulillah keluargane selamet kabeh nDuk. Nek bondo iso digoleki meneh nDuk, sik penting keluargane selamet. Nyowo ilang ra ono gantine.Arep ngomong karo kabeh po??? Iki lho kabeh nang nggon pakdhe.”

 

Dalam hatiku aku bersyukur, keluarga yang aku cintai selamat semua. Benar kata pakdhe, harta bisa dicari kembali, tapi nyawa, sekali hilang ga akan bisa terganti. Kemudian aku berbicara dengan satu persatu keluargaku, dimulai  dari nenekku, kakekku, budhe, om, adikku, mbak dan mas sepupu. Sampai pada mamak, suaranya tercekat, tak lama aku berbicara dengannya, karena buru-buru diminta bapak.

 

Masih ingat dengan jelas, bapak masih bisa mengajakku bercanda saat itu. Aku tau bapak hanya tak ingin aku bersedih di rantau orang, bapak menguatkanku lewat tuturnya, beliau  cuma memintaku untuk mendoakan keselamatan semua keluarga. Kemudian Hp berpindah ke tangan pakdhe lagi, dan pakdhe buru-buru menutup HP karena mau menghemat bateri. Walaupun aku masih ingin mendengar suara mereka, tapi aku maklum karena pada saat itu memang listrik terpadam.

 

Aku kembali bergabung dengan teman-teman  yang masih berusaha mencari kabar. Mereka masih menangis.  Ada beberapa yang sudah bisa menghubungi,dan alhamdulillah keluarganya selamat, walaupun rumah hancur. Sampai jam 2 siang aku menyarankan untuk tidur dulu, berhubung semalaman ga tidur.

 

Menjelang senja kami berkumpul lagi menanyakan kabar keluarga masing-masing. Salah satu temanku yang rumahnya di Pleret, Bantul masih belum bisa menghubungi keluarganya. Ia mesih saja menangis dan kami hanya bisa saling menguatkan. Dari yang aku ketahui, Atun kakaknya meninggal dan Yeni kakeknya meninggal. Di kampungku sendiri tercatat 21 orang meninggal, puluhan luka-luka,sedangkan tak ada rumah yang masih berdiri.

keadaan masjid di kampung kami selepas gempa

 

Beberapa hari setelah gempa malah menjadi hari yang sulit untukku. Di mana sedihku menjadi berlipat-lipat, dan tangisku selalu saja hadir. Bagaimana tidak, aku di sini tidur dengan nyaman, ada di atas tempat tidur

dengan selimut yang hangat. Sementara keluargaku, mereka tidur beratapkan langit, berselimut dingin dan hujan. Aku sempat tidur di lantai tanpa alas tanpa selimut, berpikir dengan cara itu aku bisa merasakan hal yang dirasakan keluargaku, sampai akhirnya teman satu rumah menegurku. Bahwa hal yang aku lakukan adalah sia-sia, yang penting jaga kesehatan biar dapat bekerja dengan baik, dan bisa kirim uang segera.

 

Dan satu hal lagi yang membuatku menangis saat itu. Hampir tiap pagi aku membuang nasi. Karena kami masak nasi sama-sama satu rumah jadi seringkali nasi tak habis dan basi, aku membuang makanan, sedangkan keluargaku di sana entah makan atau tidak. Sempat aku tergugu dalam diam. Mulai saat itu kami mengurangi memasak nasi, kalau kurang gampang bisa memasak lagi.

 

Trauma yang cukup dahsyat yang mereka rasakan. Bahkan gempa susulan masih terjadi, panik kadang masih hinggap dalam hati. Mamakku pernah bercerita dalam suratnya, “mamak berhasil keluar dari rumah karena saat itu mamak masih menjahit. Sampai akhirnya mamak lihat rumah kita seperti luluh, tah bersisa. Yang mamak ingat saat itu bapak dan adikmu. Mamak meraung berpikir mereka telah tiada. Tapi alhamdulillah, ALLAh masih melindungi mereka, dengan sedikit luka muncul dari runtuhan.. ”

 

Habis kontrak kerja tahun ketiga , tahun 2009, aku berniat menyambung lagi, tapi dari kilang memperbolehkan pulang cuti. Tiga tahun aku tak melihat kampungku, akku kembali. Tiga minggu di rumah begitu banyak perubahan di Bantul umumnya, dan kampungku khususnya. Rumah-rumah tempat bermainku masa kecilku dulu sudah berganti, tak ada lagi. Semua telah berubah menjadi rumah-rumah kecil. Hampir aku tak mengenali keadaan kampungku.

 

Hari ini, 27 Mei 2010, sudah 4 tahun musibah itu terjadi. Yang tersisa hanyalah kenangan yang tak terlupakan. Dengan adanya musibah itu, aku jadi semakin mengerti pentingnya persaudaraan, jalinan ukhuwah semakin erat. Aku jadi sadar betapa aku masih harus banyak bersyukur, Allah masih memberiku banyak rejeki. Masih mencukupkan segala makan minumku. Sekarang aku menjadi lebih menghargai makanan, karena masih banyak di luar sana yang tidak bisa makan. Syukur alhamdulillah untukMu Ya Allah.

 

 

 

*FOTO DARI KOLEKSI PRIBADI

 

 

29 Comments
saturindu wrote on May 27, '10
Semoga bencana itu tak akan pernah datang lagi
^^
asasayang wrote on May 27, '10
Semoga bencana itu tak akan pernah datang lagi
^^
amin....
sulisyk wrote on May 27, '10
ingatan gempa itu buatku sangat kuat melekat Lin. Kebetulan waktu itu aku sedang berada di jogja, baru mau minum teh hangat bikinan ibu waktu gempa dahsyat tiba2 datang. Luar biasa mencekam keadaan waktu itu. Dengan waktu gempa yang hanya setengah menit berasa begitu lama waktunya. melihat rumah bergoyang hebat, genting pada beterbangan dan gemuruh suara dahsyat dari perut bumi, sungguh luar biasa menakutkan. Dan penderitaan korban gempa setelahnya begitu mengenaskan, kehilangan harta benda nyawa sanak saudara, kelaparan dan kebetulan hujan sepertinya ikut memperparah keadaan. bener2 luar biasa menyedihkan melihat keadaan waktu itu...sigh....
miftamifta wrote on May 27, '10
T_T

*terharu*
asasayang wrote on May 27, '10
sulisyk said
ingatan gempa itu buatku sangat kuat melekat Lin. Kebetulan waktu itu aku sedang berada di jogja, baru mau minum teh hangat bikinan ibu waktu gempa dahsyat tiba2 datang. Luar biasa mencekam keadaan waktu itu. Dengan waktu gempa yang hanya setengah menit berasa begitu lama waktunya. melihat rumah bergoyang hebat, genting pada beterbangan dan gemuruh suara dahsyat dari perut bumi, sungguh luar biasa menakutkan. Dan penderitaan korban gempa setelahnya begitu mengenaskan, kehilangan harta benda nyawa sanak saudara, kelaparan dan kebetulan hujan sepertinya ikut memperparah keadaan. bener2 luar biasa menyedihkan melihat keadaan waktu itu...sigh....
lina sudah di Malay om... ga bisa ikut merasakan, tapi sedih berkali lipat, karena takut akan kehilangan orang-orang tercinta, apalagi berita masih simpang siur waktu itu...
asasayang wrote on May 27, '10
T_T

*terharu*
!_!
orangjava wrote on May 27, '10
Nasib....wong negara Modern aja gak bisa ngitung, kapan datang nya...
debapirez wrote on May 27, '10
serem euy. beberapa teman saya menjadi korbannya.
jandra22 wrote on May 27, '10
Mengharukan, dan sanggup membut mataku basah. Semoga semua cobaan itu tak terulang lagi. Ibu Taufik yang dulu suaminya Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara juga pernah mengisahkan keluarganya di Yogya yang jadi korban gempa. Menyedihkan Lien........
jandra22 wrote on May 27, '10
Sekolah anakku yang bungsu "Sekolah Indonesia di Singapura" menyumbang masjid di Bantul kalau nggak salah. Yang terima sumbangannya guru PKN mereka yang memang warga Bantul mengajar di Singapura.
asasayang wrote on May 27, '10
Nasib....wong negara Modern aja gak bisa ngitung, kapan datang nya...
iya.. eyang.. musibah datang tak terduga
asasayang wrote on May 27, '10
serem euy. beberapa teman saya menjadi korbannya.
meninggal om???
asasayang wrote on May 27, '10
Mengharukan, dan sanggup membut mataku basah. Semoga semua cobaan itu tak terulang lagi. Ibu Taufik yang dulu suaminya Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara juga pernah mengisahkan keluarganya di Yogya yang jadi korban gempa. Menyedihkan Lien........
bulan juli ada angkatan baru datang yang mengalami pas gempa, mereka juga berkisah hingga antara rasa syukur dan terharu
asasayang wrote on May 27, '10
Sekolah anakku yang bungsu "Sekolah Indonesia di Singapura" menyumbang masjid di Bantul kalau nggak salah. Yang terima sumbangannya guru PKN mereka yang memang warga Bantul mengajar di Singapura.
alhamdulillah, bantuan terus mengalir bunda...
rawins wrote on May 27, '10
ga lagi lagi...
ga lagi lagi...
rirhikyu wrote on May 27, '10
Sedih Lin.... hikss...
jangan lagi lagi terjadi
let's pray together
rosyagus wrote on May 27, '10
Semua ada hikmahnya ya Lin....
anazkia wrote on May 27, '10
Hiks... sedih... Segala musibah, Insya Allah mengandungi hikmah. Meskipun berat, kepada yang mendapatkannya.

Lin, nulisnya masih tercampur bahasa Melayu dikit2... :)

Makasih, sudah berbartisipasi
Comment deleted at the request of the author.
asasayang wrote on May 27, '10
rawins said
ga lagi lagi...
ga lagi lagi...
ga mau lagi....
asasayang wrote on May 27, '10
Sedih Lin.... hikss...
jangan lagi lagi terjadi
let's pray together
amin... ga mau lagi mbak..
asasayang wrote on May 27, '10
Semua ada hikmahnya ya Lin....
iya.. mbak
asasayang wrote on May 27, '10
anazkia said
Hiks... sedih... Segala musibah, Insya Allah mengandungi hikmah. Meskipun berat, kepada yang mendapatkannya.

Lin, nulisnya masih tercampur bahasa Melayu dikit2... :)

Makasih, sudah berbartisipasi
amin.. insyaallah
...
nitafebri wrote on May 28, '10, edited on May 28, '10
kenanganan itu kan selalu ada..
kenangan akan jogja yag dilanda gempa..

*waah ikutan lomba juga, baguslah abis dari kemaren lebih banyak yg di di blogspot
asasayang wrote on May 28, '10
kenanganan itu kan selalu ada..
kenangan akan jogja yag dilanda gempa..

*waah ikutan lomba juga, baguslah abis dari kemaren lebih banyak yg di di blogspot
iya mbak,

nyoba aja... tulisan yang lain bagus2///
affaz wrote on May 28, '10
Gempa 27 mei, saat itu aku bergegas akan mandi menjalani rutinitas sehari - hari, pas hari itu juga anakku Affan baru 12 hari, begitu gempa mengguncang aku lari dan langsung kudekap dia, didalam rumah ditengah guncangan dahsyat aku dengar suara keras tembok 2 rumahku roboh almari yang tumbang, bahkan sempat beberapa kali kepala dan kakiku dihantam reruntuhan. Yang terpikir saat itu aku akan mati namun aku ingin Affan tetap harus hidup dalam dekapku. Ketika gempa berhenti aku lari keluar dan kulihat rumah kiri kananku bernasib sama, udara yang kotor penuh debu, seperti kabut membuat hati ini bertambah kalut. Itulah awal dari kenangan peristiwa gempa 27 Yogya dan begitu banyak rentetan peristiwa yang memilukan. "Semua peristiwa ada hikmah didalamnya". Hanya dengan hati dan perasaan kita bisa memahami orang lain.

Wis...wis...Lin
Aku dadi larut kelingan ndisik - ndisik
Wislah.......
asasayang wrote on May 28, '10
affaz said
Gempa 27 mei, saat itu aku bergegas akan mandi menjalani rutinitas sehari - hari, pas hari itu juga anakku Affan baru 12 hari, begitu gempa mengguncang aku lari dan langsung kudekap dia, didalam rumah ditengah guncangan dahsyat aku dengar suara keras tembok 2 rumahku roboh almari yang tumbang, bahkan sempat beberapa kali kepala dan kakiku dihantam reruntuhan. Yang terpikir saat itu aku akan mati namun aku ingin Affan tetap harus hidup dalam dekapku. Ketika gempa berhenti aku lari keluar dan kulihat rumah kiri kananku bernasib sama, udara yang kotor penuh debu, seperti kabut membuat hati ini bertambah kalut. Itulah awal dari kenangan peristiwa gempa 27 Yogya dan begitu banyak rentetan peristiwa yang memilukan. "Semua peristiwa ada hikmah didalamnya". Hanya dengan hati dan perasaan kita bisa memahami orang lain.

Wis...wis...Lin
Aku dadi larut kelingan ndisik - ndisik
Wislah.......
wah... mas mursyid ya?????
ngeri ya mas... ga terasa dah 4 tahun ya....
misbahuddin wrote on May 29, '10, edited on May 29, '10
saya merasakan secara langsung gempa jogja, dimana waktu itu saya terjebak di dalam kamar yang pintunya gak bisa terbuka, sehingga saya terpaksa menikmati ayunan tembok kamarku yang bergoyang2 selama beberapa detik...foto ini merupakan foto 30 menit setelah gempa jogja mengguncan,


asasayang wrote on May 29, '10
saya merasakan secara langsung gempa jogja, dimana waktu itu saya terjebak di dalam kamar yang pintunya gak bisa terbuka, sehingga saya terpaksa menikmati ayunan tembok kamarku yang bergoyang2 selama beberapa detik...foto ini merupakan foto 30 menit setelah gempa jogja mengguncan,

kk masih di UMY ya kala itu...
Add a Comment