Tahun 2006 adalah tahun yang membawa perubahan besar dalam hidupku. Bagaimana tidak di tahun itu aku memutuskan tuk menyaberang ke negeri seberang, menjadi seorang TKI. Banyak cerita setelah lebih dari 4 tahun perjalanan di sini. Tapi ada satu kejadian yang sangat membekas dalam hati. Kisah ini mungkin banyak yang mengalami, tapi bagiku sendiri ada beberapa hal yang menyadarkanku akan adanya kasih sayang yang selama ini sangat jarang terucap. Kisah ini Lina ikutkan dalam kontes blog berbagi kisah sejati yang diadakan oleh mbak Anazkia dengan sponsor denaihati
*&*
Pagi itu, tanggal 27 Mei 2006, tepat 2 bulan aku menginjakkan kaki di Negeri Malaysia ini. Aku masih ingat, pagi itu adalah usai kerja malam, berarti cuti untukku dan temen-teman yang kerja di shift z. Rasa kantuk dan penat karena semalaman ga tidur menyebabkan aku, Lia, dan mbak Yuni pengen cepat-cepat sampai rumah. Oh iya, aku tinggal di sebuah flat 8 tingkat, sedangkan rumahku ada di lantai 2. Ga kuat naik tangga, kami bertiga naik lift. Saat keluar dari lift itu, sebuah sms masuk di hp Lia. Sambil berjalan menuju rumah yang ada di pojok sebelah barat Lia baca smsnya. Ternyata dari adiknya, “mbak, barusan ada gempa gedhe dan kenceng banget mbak.. sampe takut aku..”
“lha gimana keadaannya??”balas temenku.
“gpp kok mbak, cuman ada retak-retak dikit aja.” Itulah jawaban dari adik Lia yang bikin hati kami sedikit lega.
Sampai di rumah, setelah membersihkan diri kamipun segera ke tempat tidur, melunasi hutang tidur tadi malam. Hampir terlelap saat sayup-sayup aku mendengar jendela rumah kami digedor orang.
“hey… bangun!! Bangun!!! Jogja karam…!!”teriak Alif,gadis mungil itu sambil terisak.
“ada apa tho, Lif??”tanyaku bingung sambil membuka pintu rumah.
“Jogja karam!! Kita nanti pulang ke mana??”ceracaunya lagi.
Aku dan teman-teman satu rumah masih saja bingung dengan apa yang terjadi.
“Barusan aku dapat berita kalo ada gempa di Bantul. Jogja karam....!”katanya diselangi isak tangisnya.
Panik, hanya itu yang aku rasakan saat itu. Mau nyari informasi lewat mana?? Sedangkan hp aku ga punya. Bergegas cuci muka dan ganti baju turun ke bawah berlari ke flat sebelah mencari wartel. Sampai di wartel, langsung menelpon nomer pakdhe, om, mas sepupu, mbak sepupu. Semua nomer telepon yang aku punya, entah punya tetangga aku coba telepon, tapi hasilnya nihil. Tak satupun nomer bisa dihubungi.
“kenapa dek??” Tanya pemilik wartel, yang orang Medan.
“Jogja kena gempa, kak. Katanya sih gedhe. Dan nomer ga nyambung semua.”jelasku.
“dihubungi lewat HP aja. Biasanya kalo lewat wartel susah dihubungi kalo kayak gitu.”katanya.
Dan akhirnya aku cuman beli kartu isi ulang. Dalam pikiranku aku bisa pinjam Hp teman buat telpon mencari kabar.
Kembali ke rumah, teman-teman yang rumahnya Jogja sudah berkumpul. Ada yang sudah dapat kabar dari rumah ada juga yang masih saja mencari kabar. Suasana begitu kalut, risau dan sedih. Isak tangis kawan-kawan menambah sedihku, karena aku masih belum bisa menghubungi keluargaku.
Aku meminta izin ke Lia, sahabatku, meminjam HP-nya. Dengan senang hati dia meminjamkannya. Aku isi pulsanya tadi kemudian mencoba men-dial nomer semua kerabatku. Sampai pada nomer pakdhe, alhamdulillah bisa nyambung dan diangkat.
“assalamu’alaikum, Pakdhe. Niki Lina, criose wonten gempa teng Bantul??”aku langsung menanyakan perihal berita gempa di Bantul.
“wa’alaikumsalam. Iyo nDuk. Alhamdulillah keluargane selamet kabeh nDuk. Nek bondo iso digoleki meneh nDuk, sik penting keluargane selamet. Nyowo ilang ra ono gantine.Arep ngomong karo kabeh po??? Iki lho kabeh nang nggon pakdhe.”
Dalam hatiku aku bersyukur, keluarga yang aku cintai selamat semua. Benar kata pakdhe, harta bisa dicari kembali, tapi nyawa, sekali hilang ga akan bisa terganti. Kemudian aku berbicara dengan satu persatu keluargaku, dimulai dari nenekku, kakekku, budhe, om, adikku, mbak dan mas sepupu. Sampai pada mamak, suaranya tercekat, tak lama aku berbicara dengannya, karena buru-buru diminta bapak.
Masih ingat dengan jelas, bapak masih bisa mengajakku bercanda saat itu. Aku tau bapak hanya tak ingin aku bersedih di rantau orang, bapak menguatkanku lewat tuturnya, beliau cuma memintaku untuk mendoakan keselamatan semua keluarga. Kemudian Hp berpindah ke tangan pakdhe lagi, dan pakdhe buru-buru menutup HP karena mau menghemat bateri. Walaupun aku masih ingin mendengar suara mereka, tapi aku maklum karena pada saat itu memang listrik terpadam.
Aku kembali bergabung dengan teman-teman yang masih berusaha mencari kabar. Mereka masih menangis. Ada beberapa yang sudah bisa menghubungi,dan alhamdulillah keluarganya selamat, walaupun rumah hancur. Sampai jam 2 siang aku menyarankan untuk tidur dulu, berhubung semalaman ga tidur.
Menjelang senja kami berkumpul lagi menanyakan kabar keluarga masing-masing. Salah satu temanku yang rumahnya di Pleret, Bantul masih belum bisa menghubungi keluarganya. Ia mesih saja menangis dan kami hanya bisa saling menguatkan. Dari yang aku ketahui, Atun kakaknya meninggal dan Yeni kakeknya meninggal. Di kampungku sendiri tercatat 21 orang meninggal, puluhan luka-luka,sedangkan tak ada rumah yang masih berdiri.

keadaan masjid di kampung kami selepas gempa
Beberapa hari setelah gempa malah menjadi hari yang sulit untukku. Di mana sedihku menjadi berlipat-lipat, dan tangisku selalu saja hadir. Bagaimana tidak, aku di sini tidur dengan nyaman, ada di atas tempat tidur
dengan selimut yang hangat. Sementara keluargaku, mereka tidur beratapkan langit, berselimut dingin dan hujan. Aku sempat tidur di lantai tanpa alas tanpa selimut, berpikir dengan cara itu aku bisa merasakan hal yang dirasakan keluargaku, sampai akhirnya teman satu rumah menegurku. Bahwa hal yang aku lakukan adalah sia-sia, yang penting jaga kesehatan biar dapat bekerja dengan baik, dan bisa kirim uang segera.
Dan satu hal lagi yang membuatku menangis saat itu. Hampir tiap pagi aku membuang nasi. Karena kami masak nasi sama-sama satu rumah jadi seringkali nasi tak habis dan basi, aku membuang makanan, sedangkan keluargaku di sana entah makan atau tidak. Sempat aku tergugu dalam diam. Mulai saat itu kami mengurangi memasak nasi, kalau kurang gampang bisa memasak lagi.
Trauma yang cukup dahsyat yang mereka rasakan. Bahkan gempa susulan masih terjadi, panik kadang masih hinggap dalam hati. Mamakku pernah bercerita dalam suratnya, “mamak berhasil keluar dari rumah karena saat itu mamak masih menjahit. Sampai akhirnya mamak lihat rumah kita seperti luluh, tah bersisa. Yang mamak ingat saat itu bapak dan adikmu. Mamak meraung berpikir mereka telah tiada. Tapi alhamdulillah, ALLAh masih melindungi mereka, dengan sedikit luka muncul dari runtuhan.. ”
Habis kontrak kerja tahun ketiga , tahun 2009, aku berniat menyambung lagi, tapi dari kilang memperbolehkan pulang cuti. Tiga tahun aku tak melihat kampungku, akku kembali. Tiga minggu di rumah begitu banyak perubahan di Bantul umumnya, dan kampungku khususnya. Rumah-rumah tempat bermainku masa kecilku dulu sudah berganti, tak ada lagi. Semua telah berubah menjadi rumah-rumah kecil. Hampir aku tak mengenali keadaan kampungku.
Hari ini, 27 Mei 2010, sudah 4 tahun musibah itu terjadi. Yang tersisa hanyalah kenangan yang tak terlupakan. Dengan adanya musibah itu, aku jadi semakin mengerti pentingnya persaudaraan, jalinan ukhuwah semakin erat. Aku jadi sadar betapa aku masih harus banyak bersyukur, Allah masih memberiku banyak rejeki. Masih mencukupkan segala makan minumku. Sekarang aku menjadi lebih menghargai makanan, karena masih banyak di luar sana yang tidak bisa makan. Syukur alhamdulillah untukMu Ya Allah.
*FOTO DARI KOLEKSI PRIBADI